22
Februari 2015, tepat 1 minggu sebelum Praktek Kerja Industri. Berat memang,
jika harus terngiang oleh pikiran ketika akan jauh dari teman teman terdekatku
disekolah. Yaaa, mski hanya dalam jangka waktu
kurang lebih 3 bulan, tetapi bagiku tetap saja sulit.jauh dari mereka,
tak lagi mendengar jeritan jeritan nakal suara mereka, juga tidak lagi melihat
senyum sapaan mereka setiap paginya dalam waktu 3 bulan.
![]() |
| Gambar 1.1 Keluarga Besar XI Multimedia 1 - SMK Negeri 1 Bantul |
Waktu
terus berjalan, hari pertama prakerin pun kini sudah tiba. Senin, 2 Maret 2015.
Dari yang biasanya jam 5 pagi masih benerin selimut sekarang udah mandi,
berseragam rapi dan sarapan pagi. Dari yang biasanya jam 6.15 baru bergegas
memasuki kamar mandi, kini telah berdandan cantik dan siap berangkat praktek kerja industri.
Dalam perjalanan, karena belum terbiasa jarak dari rumah sampai dengan tempat
Prakerin terasa jauh. Terlihat suasana jalanan yang begitu membosankan, dan bagiku
itu tidak menarik.
Selang
30 menit, aku bersama temanku Dwi Astuti yang seringkali dipanggil Astuti, dan
Asniyati Hanifah yang kerap disapa Asni telah tiba di tempat tujuan. PUSPADANTA
guyss! Tempat prakerin yang katanya terstruktur sesuai kurikulum, keren, disiplin, on
time pula. Kurang apa lagi coba?
![]() |
| Gambar 1.2 Lembaga Bina Bakat Puspadanta |
Aku melirik jam tanganku. YaaTuhaaaan.. pantas
saja pintu belum dibuka ternyata kami berangkat terlalu pagi. Selang beberapa
menit dari arah barat terlihat 6 orang murid sebaya kami yang berjalan menuju
Puspadanta, menit selanjutnya terlihat 6 orang murid yang datang dari arah yang
berlawanan. Namun anehnya seragam yang mereka gunakan memiliki identitas yang
sama. Kami saling bertatap muka.
Tepat pukul 07.00, terdengar seseorang tengah memutar slot kunci dan membukakan pintu. Terlihat seorang lelaki berdiri di ambang pintu, yang ternyata adalah pak Nonok saudara pak Ali. Segera kami mendekatinya dan memberikan salam. Jam pembekalan prakerinpun tiba. Materi pertama adalah narasi, kami dibimbing oleh guru cantik yang seringkali disapa Bu Rully. Ia meminta kami membuat narasi dan membacanya di depan. Saat giliranku tiba, aku segera maju ke depan dan membacanya. Selesai membaca, Bu Rully memberi tanggapan bahwa narasi yang aku buat sudah sesuai. Eh, gimana nggak seneng coba? Dari yang awalnya sama sekali nggak bisa bikin narasi, sekalinya bikin tanggepannya tidak mengecewakan.
Tepat pukul 07.00, terdengar seseorang tengah memutar slot kunci dan membukakan pintu. Terlihat seorang lelaki berdiri di ambang pintu, yang ternyata adalah pak Nonok saudara pak Ali. Segera kami mendekatinya dan memberikan salam. Jam pembekalan prakerinpun tiba. Materi pertama adalah narasi, kami dibimbing oleh guru cantik yang seringkali disapa Bu Rully. Ia meminta kami membuat narasi dan membacanya di depan. Saat giliranku tiba, aku segera maju ke depan dan membacanya. Selesai membaca, Bu Rully memberi tanggapan bahwa narasi yang aku buat sudah sesuai. Eh, gimana nggak seneng coba? Dari yang awalnya sama sekali nggak bisa bikin narasi, sekalinya bikin tanggepannya tidak mengecewakan.
Materi kedua adalah olah vokal. Awalnya
terasa aneh, aku anak Multimedia tapi kok disuruh latihan vokal? Nggak mungkin
juga kan kalau di tempat prakerin kita disuruh paduan suara dan nyanyiin lagu
Indonesia Raya gitu? Ternyata, setelah diberi penjelasan oleh Bu Rully, olah
vokal tersebut bertujuan untuk menyesuaikan suara kita saat membaca narasi.
Materi demi materi aku ikuti dengan disiplin. Hari pertama di Puspadanta terasa
berbeda, tentunya ini semua terasa indah.
Hari
berikutnya, seperti pada hari pertama. Aku berangkat bersama Asni dan Astuti. Lagi lagi kami berangkat kepagian. Tepat pada pukul 07.00 pintu dibuka,
sedangkan aku bersama dengan kedua temanku sudah stay di depan pintu sejak
30 menit sebelumnya. Setelah masuk, kami duduk sembari menunggu teman-teman yang
lain datang. Oiya, di sini aku mendapatkan teman baru yaitu 12 anak dari Klaten. Setelah semua
datang termasuk semua teman magangku lainnya yaitu Andrey, Ibnu dan Jeffta
materi segera dimulai. Hari kedua kami mendapatkan tugas untuk take video
sebanyak 20 angle menggunakan handicam. Awalnya aku berfikir bahwa itu mudah,
ternyata setelah turun tangan gambar yang sudah kuambil hasilnya goyang semua
alias nihil. Nggak ada 1 pun gambar yang diacc oleh guru pendamping. Gilaaaaa
malu banget sumpah! Dari situlah aku mulai berusaha, dari yang awalnya take
video bergantung dengan penggunaan tripod, sekarang tanpa tripodpun insyaalloh
kami mampu. Meski harus menghabiskan waktu selama 1 minggu untuk mendapatkan 2
kali lipat dari jumlah yang telah ditentukan sebelumnya, tetapi dari hal kecil
itu aku merasakan adanya kerjasama dari kawan kawanku satu sama lain. Dari hal
itu pula aku belajar, bahwa mendapatkan sesuatu yang baik itu tidaklah mudah.
Harus dengan sabar, dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
![]() |
| Gambar 1.3 Take Video 20 Angle Di Masjid Pathok Negoro Wonokromo Pleret |
Hari
hari berikutnya hingga kurang lebih sekitar 1 minggu, kami hanya menghabiskan
waktu kami untuk mendalami pengambilan gambar 20 angle ini. Selama 1 minggu itu
juga, kami selalu bersama, saling bekerjasama dan tidak lagi mementingkan ego
dari diri kami masing masing. Dari situlah aku mengerti arti kebersamaan.
Sederhana memang, hanya dari hal kecil namun memiliki kebahagiaan yang sangat
luar biasa.




tulisan mu itu.......
BalasHapus...... mungkin ceritamu itu bagus.
BalasHapusjudulmu itu mungkin membingungkanku......?
BalasHapusItu beneran Far ???? masak sih ?? serius ?????????? ... Haha
BalasHapustulisannya masih banyak yang kurang teliti....
BalasHapusfarida lebih teliti lagi yaaa kalau mau ngeshare.... usahain jangan sampai ada pengulangan kata.
BalasHapuskurang teliti kak
BalasHapus