Hari demi hari
telah berlalu. Semua tugas terasa lebih ringan dengan adanya pembentukan garda.
Anggota satu dengan anggota lain dapat bekerjasama dan saling menghargai
adanya perbedaan pendapat tanpa adanya perselisihan yang timbul diantara para
anggota.
Tiba hingga pada
minggu keempat. Pada tanggal 21 Maret 2015, seorang wanita cantik namun
terlihat asing memasuki ruangan atas. Mas Ikang bilang, ia adalah Mbak Lathiva
atau yang kerap disapa Mbak Lala. Ia adalah salah satu karyawan Puspadanta yang
selama ini seringkali diceritakan oleh pak Ali. Oalaaah..
ini to yang namanya Mbak Lala.
Hari itu, aku
mendapatkan tugas untuk membuat narasi seputar Acara Milad SMP Muhammadiyah 2
Yogyakarta. Setelah narasi selesai dibuat dan telah di Acc oleh Bu Rully aku
pun berniat untuk beristirahat sejenak. Dengan ditemani segelas kopi dingin, aku duduk diruang tengah sembari bercakap
cakap dengan beberapa kawan magangku. Tak lama kemudian, dari arah barat
terlihat salah satu kawan magangku yaitu Ima, datang menghampiriku. Ia
menyampaikan pesan dari Bu Rully, bahwa narasi yang telah dikoreksi tadi
diminta untuk dikoreksikan kembali pada Mbak Lala. Mendengar perintah tersebut,
aku bergegas menemui Mbak Lala. Banyak sekali pikiran negative yang datang dan
bergelayut dalam benak ku. Takut jika narasi salah, takut jika mendapat
komentar bahwa narasiku tidak layak pakai, takut jika Mbak Lala marah. Yang
jelas banyak sekali rasa takut yang datang menghantui. Terlebih lebih, beberapa
anak magang mengatakan bahwa jika narasi tersebut salah Mbak Lala akan marah
dan memberikan hukuman.
Ketika menemui Mbak Lala. Ia membaca paragraf awal
dari narasi yang telah aku buat. Komentar Mbak Lala adalah lumayan. Memasuki
paragraf kedua, dari situ Mbak Lala mulai banyak menyalahkan pekerjaanku.
Kurang inilah, itulah, salah inilah, itulah. Takut jujur! Tapi apa salahnya?
Aku dimarahi karna kesalahanku, aku juga dimarahi demi kebaikanku. Lalu apa
yang harus aku takuti? Dengan sopan aku memberanikan diri untuk menanyakan
kembali letak kesalahan narasiku. Setelah beberapa kata direvisi dan diberitahu
bagaimana penempatan setiap kata yang baik dan benar, narasi SMP Muhammadiyah 2
Yogyakarta tersebut di Acc oleh Mbak Lala. Lega sekali rasanya.
Segera aku menuruni anak tangga dan kembali ke ruang
tengah. Tidak sengaja aku membaca sedikit narasi yang telah aku buat dengan
bantuan Mbak Lala tersebut, eeh ternyata lumayan bagus. Setiap kalimat dan suku
katanyapun terlihat sangat rapi dan enak untuk dibaca. Dari situlah aku mulai
mengerti, bahwa setiap omelan yang dilontarkan oleh Mbak Lala itu mengandung
arti. Tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.
Hari berikutnya, Mbak Lala memintaku untuk membuat
narasi kembali. Narasi kali ini lain dengan narasi yang telah kubuat
sebelumnya. Jika waktu itu narasi dibuat tanpa melihat hasil liputan, kali ini
narasi dibuat dengan meliput sendiri kegiatannya.
Narasi kedua selesai dibuat dan tidak banyak mendapatkan
revisi dari Mbak Lala. Mbak Lala juga bilang kalau aku punya bakat menulis. Weh
senengnyaaaaa!!! Ternyata setelah mengenal Mbak Lala dan mendengarkan beberapa
ceritanya sembari merevisi narasi, Mbak Lala tidak seperti yang aku bayangkan.
Hari terakhirku diminggu keempat pun telah berakhir dengan pengalaman baru.
Hari hari berikutnya setelah narasi dikoreksi dan
menapatkan sedikit tambahan pemahaman dari guru baru ini, aku semakin mengerti.
Bahwa semua hal yang bernilai baik dan benar, harus melalui proses. Dan proses
itu tentunya tidak mudah!

pengalamanmu minggu ini luar biasa ! ;)
BalasHapuspengalamanmu menginspirasi dari ngatif menjadi positif....apik
BalasHapuspengalamanmu cukup menarik farida..lanjutkan!!!
BalasHapusmenarik kakak
BalasHapus